Psikotest untuk Dunia Kerja

 
Psikotest merupakan sebuah aktivitas yang sering dijumpai dan harus dilakukan oleh para calon karyawan untuk bergabung ke perusahaan / organisasi yang diminatinya. Beberapa hal yang menjadi pertanyaan adalah :
- Bagaimana caranya agar saya bisa lulus psikotest ?
- Mengapa saya tidak lulus psikotest ?
- Apakah hanya level Supervisor kebawah saja yang perlu psikotest ?
- Apakah level Manager keatas tidak diperlukan psikotest
- Apakah psikotest itu merupakan sebuah keharusan bagi perusahaan untuk menjalankannya ?
- Apakah perlu melakukan psikotest terhadap kandidat yang melamar pada jabatan HRD ? Karena pekerjaan saya adalah HRD yang tiap harinya berkutat dengan recruitment & psikotest. Saya kan sudah tahu jawabannya jadinya (Jeruk kok makan Jeruk ?)
 
Psikotest bukanlah merupakan tolak ukur dari sebuah Recruitment di Organisasi. Psikotest adalah salah satu tools untuk mengeliminasi banyaknya pekerja yang melamar agar sesuai dengan profile dari job yang dibutuhkannya. Hal ini tentunya harus disesuaikan dengan kepentingan keperluan si organisasi tersebut. Bahkan tidak jarang ada organisasi yang tidak melakukan psikotest bahkan mengharamkannya untuk dilakukan. Hal ini biasanya terjadi karena :
 
1. Psikotest dianggap merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia dan tidak penting karena belum tentu seseorang yang dianggap lulus psikotest merupakan hasil yang terbaik.
 
2. Jam terbang dari psikolog kurang sehingga mengakibatkan adanya gap pada hasil analisanya.
 
3. Si pembuat test tidak pernah melakukan update terhadap alat testnya atau bahkan sudah terlalu malas untuk melakukan pembaharuan. Memang harus diakui untuk melakukan update diperlukan riset dan analisa yang membutuhkan biaya yang cukup besar. Sehingga alat test yang digunakan itu sudah OBSOLATE / KEDALUARSA dan tidak pernah diupdate sehingga dari tahun ke tahun alat testnya itu-itu saja dan tidak pernah berubah.
 
4. Output dari psikotest yang tidak sesuai dengan kenyataan seperti :
a. Kandidat yang sesuai dengan profile yang diinginkan / meet job requirement dengan kategori disarankan / recomended atau dapat dipertimbangkan / to be considered namun setelah yang bersangkutan berkaryaw di organisasi ternyata hasil kinerjanya sangat tidak memuaskan sehingga dilakukan PHK.
b. Kandidat yang setelah dilakukan assesstment diperoleh hasil tidak disarankan / not recomended namun setelah dilakukan Technical Interview, pihak Usernya sudah yakin sekali dengan
kompetensi & kemampuannya sehingga hasil psikotestnya diabaikan. Dan ternyata setelah kandidat tersebut berkarya di organisasi, dia menunjukkan kinerja yang super.
 
5. Psikotest itu bisa dipelajari. Beberapa alat test sudah "bocor" ke publik bahkan ada petunjuk psikotest yang dijual di toko buku ternama sehingga dimungkinkan untuk dipelajari dan diantisipasi sehingga dipastikan kelulusannya. Tentunya definisi bocor itu sendiri tidak tepat secara harfiahnya karena semua ilmu pengetahuan itu adalah sifatnya WAJIB DIPELAJARI. Jadi tidaklah ada kata bocor untuk ilmu pengetahuan. Yang tidak diperbolehkan adalah melakukan analisa hasil psikotest tersebut karena merupakan domain dari psikolog (sarjana psikologi yang sudah mengikuti pendidikan profesi). Untuk yang ini, maka serahkanlah pada ahlinya.
 
6. Pihak organisasi lebih percaya kepada hasil yang bersifat budaya & spiritual seperti fengshui, ramalan dan kecocokan serta pengalaman pribadi owner di organisasi tersebut yang hasil dari eksekusinya biasanya sangat akurat. Seringkali di dalam sebuah organisasi, setelah dilakukan interview dan beberapa macam test, ada test terakhir yaitu bertemu dengan owner untuk dilihat kecocokan dari raut wajah atau garis/rajah tangan dan fengshui serta aura kandidat tersebut di organisasi. Tujuannya adalah untuk melihat sejauhmana kandidat tersebut cock dan bisa memajukan perusahaan.
 
 
Beberapa alat test yang digunakan untuk psikotest di dunia kerja adalah :
1.Tes Intelektual
- CFIT / Culture Fair Intelegence Test dan TIU / Tes Intelegensi Umum (mengungkap kemampuan mental secara umum)
- TKD / Tes Kemampuan Dasar (mengukur kemampuan dasar individu)
- AA / Army Alpha (mengetahui daya tangkap / daya konsentrasi)
- ADKUDAG / Administrasi dan Keuangan (kemampuan administrasi dan keuangan)
- IST / Tes Inteligensi (kecocokan antara intelegensi dengan pekerjaan/profesi tertentu)
 
2.Tes Kepribadian
- EPPS / Edwards Personal Preference Schedule (mengukur kepribadian orang)
- DAM&BAUM / Draw A Man Tes (bentuk test yang menggambar orang untuk mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja)
- WARTEGG (mengetahui emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas subjek)
- Pauli Test (mengukur sikap kerja dan prestasi kerja seperti daya tahan, keuletan, sikap terhadap tekanan, daya penyesuaian, ketekunan, konsistensi, kendali diri)
- KRAEPLIEN (mengungkap ketelitian,kecepatan, kestabilan dan ketahanan kerja)
- RM / The Rothwell Miller (mengetahui minat seseorang terhadap jenis pekerjaan)
- PAPI Kostick (menjabarkan kepribadian)
 
Beberapa perusahaan masih menggunakan psikotest untuk assessment pekerja, namun beberapa perusahaan juga sudah meninggalkannya. Hal ini sangat tergantung pada skill, knowledge dan jam terbang dari para eksekutor lapangan (HRD) serta budaya yang dimiliki oleh organisasi itu sendiri.
 
Lalu bagaimana cara menjawab psikotest agar kita bisa lolos ? Untuk menjawab hal ini maka haruslah diperlukan pemahaman yang mendasar tentang psikotest ini. Psikotest merupakan tolls untuk mengukur & menilai potensi, kemampuan, karakter, minat, bakat serta keinginan dari kandidat yang bisa dinilai pada waktu psikotest tersebut. Tentunya hal ini disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Setiap organisasi berbeda-beda parameter needsnya sehingga apabila kita dinyatakan tidak lulus psikotest, berarti kompetensi dan karakter kita BELUM SESUAI dengan keinginan organisasi tersebut dan bukan berarti kita ini tidak perform atau tidak memiliki kemampuan untuk berkarya.
 
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa lulus psikotest ? Tidak perlu beli buku psikotest, tidak perlu mencari kisi-kisi dan panduan psikotest. Sebaiknya JADILAH DIRI ANDA SENDIRI. Jadi dalam melakukan psikotest tersebut, isilah sesuai hati nurani serta kemampuan anda sendiri. Jagalah fisik & kesehatan anda karena ini merupakan modal utama anda dalam melakukan psikotest. Jika anda lelah dan sakit waktu melakukan psikotest, maka secara otomatis akan menurunkan performa anda waktu menjawabnya.
 
 
Bagaimana dengan kandidat untuk job HRD ? Hal ini bisa disikapi sesuai dengan kebutuhan. Namun untuk lebih praktisnya, sebaiknya kandidat HRD (terlebih pada posisi recruitment, psikologist dan Manager) dilakukan Interview Based on Competency. Hal ini akan lebih akurat & valid dalam mendapatkan kandidat yang terbaik karena pada umumnya mereka sudah mengetahui soal-soal psikotest.
 
Widhi Setyo Kusumo
HR Consultant & Practitioner

Comments   

 
+1 #2 WIdhi Setyo Kusumo 2012-10-28 10:40
mbak Rin

Psikotest digunakan apabila dibutuhkan.

Jadi jika usia tua pun, tidak ada masalah untuk dilakukan psikotest.

Permasalahannya adalah apakah kegunaan dari psikotest yang mau kita lakukan itu ?

Jika untuk Recruitment Tenaga Kerja, maka tentunya usianya sebaiknya adalah "USIA PRODUKTIF".

Jika mencari Direktur/CEO... . tentunya parameternya bukan usia bukan....?

Semoga berkenan.
Salam Sukses Dahsyat Luar Biasa untuk mbak Rina
Quote
 
 
0 #1 rina 2012-10-26 09:23
Berapakah usia maksimal seseorang dilakukan psikotest?
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Additional information