Bisnis Unik, Budidaya Cacing Tanah

Bisnis Unik, Budidaya Cacing Tanah

Tak hanya marak bisnis kuliner, budidaya cacing tanah juga menjanjikan

Rabu, 23 Desember 2015 | 16:54 WIB

Oleh : Lutfi Dwi Puji Astuti, Dody Handoko

Bisnis Unik, Budidaya Cacing Tanah Budidaya cacing tanah (VIVA.co.id/ Dody Handoko)

VIVA.co.id - Tingginya permintaan cacing untuk kebutuhan farmasi, kosmetik, maupun pakan ternak, membuat pelaku bisnis cacing terus bertahan. Potensi budidaya cacing lumbricus rubellus masih tetap cerah.

Salah satu pelaku di bisnis ini adalah Harijadi, yang melakukan budidaya cacing di kawasan Magetan, Jawa Timur.

Cacing jenis lumbricus rubellus memang memiliki banyak manfaat untuk manusia. Di antara manfaat ini, cacing bisa dijadikan sebagai obat penurun panas dan demam yang sangat efektif. Bahkan, penggunaan cacing dalam obat sudah diperkenalkan sejak zaman nenek moyang.

Tidak hanya di Indonesia, cacing lumbricus rubellus atau biasa dikenal cacing tanah merah ini juga menjadi bahan utama dalam pembuatan obat dan bahan kosmetik di luar negeri, seperti China, Korea, Jepang, Kanada, dan Amerika.

“Permintaan cacing tak hanya datang dari dalam negeri, dari luar negeri pun sangat besar. Bahkan, untuk memenuhi permintaan dari pabrik-pabrik dalam negeri, kami masih belum mampu memenuhi kuota permintaan tiap bulannya. Karena ini lah, sebenarnya dibutuhkan mitra kerja sama yang banyak untuk peternak cacing di Indonesia,” ucap Harijadi.

Selain memiliki manfaat yang besar, dalam hal perawatan cacing juga cukup simpel. Dalam perawatan kolam cacing, ternyata tidak membutuhkan tenaga yang banyak.

Dikatakan Harijadi, cukup satu orang untuk mengelola dan merawat puluhan kolam cacing. Pakan cacing pun tergolong mudah, sisa atau limbah makanan dari rumah tangga bisa dijadikan sebagai pakan cacing.

“Untuk kebutuhan makan, biasanya saya memberikan sayuran kubis sisa yang saya ambil dari pasar. Kubis terlebih dulu dicacah sebelum diberikan ke kolam cacing. Enaknya lagi dalam beternak cacing, cacing tidak tergantung pada pemberian makan. Bahkan, untuk pemberian makan yang tidak rutin pun tidak masalah,” katanya.

Hanya dalam waktu 40 hari, cacing sudah bisa dipanen. Terkait harganya, diakui Harijadi, satu kilogram umur 40 hari sekitar Rp40–50 ribu. Tak aneh, jika budidaya cacing bisa menjadi salah satu alternatif bisnis di bidang agrobisnis.

Untuk melakukan budidaya ini hanya dibutuhkan kolam budidaya, ukuran idealnya sekitar 1x4 meter. “Satu kolam biasanya diisi 15-20 kg indukan cacing. Dalam 40 hari, indukan ini bisa berkembang menjadi tiga kali lipat, yaitu 45 kilogram setiap kolam,” tuturnya.

Harijadi mengaku rutin mengirimkan minimal 60 kilogram cacing ke salah satu rekannya di Malang. Saat ini, paling tidak ia telah mengelola sekitar 20 kolam cacing.

"Cacing ini merupakan binatang yang menyukai tempat lembap dan gampang stres jika terkena cahaya Matahari. Karena itu, setiap hari kami harus mengecek kelembapan media. Usahakan media jangan terlalu basah dan terlalu kering. Jika kering, media cacing bisa disemprot air secara merata dan tidak berlebihan. Untuk kolam sebaiknya menggunakan atap agar cahaya tidak masuk ke kolam,” katanya.

Namun, diakuinya, beternak cacing ini bukanlah tanpa hambatan. Salah satu kendala utama dalam budidaya cacing ini adalah serangan semut, tikus, katak, dan kadal.

Sebagai langkah antisipasi, ia selalu menjaga kebersihan sekitar kolam. Sebenarnya, budidaya cacing ini bukanlah perkara yang sulit. Karena pada dasarnya bisa dilakukan di mana pun.

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/714844-bisnis-unik--budidaya-cacing-tanah