Dunia Membutuhkan seorang Avatar

Pemanasan global sudah menjadi trendsetter yang sangat kuat dalam beberapa bulan ini. Cuaca sudah tidak lagi bisa diprediksi. Perubahan iklim akibat pemanasan global kini bukan lagi sebuah wacana namun benar-benar telah menghampiri kita semua.

Beberapa catatan penting :
1. Badan Meteorologi Dunia (WMO), suhu bumi pada tahun 2006 meningkat 0,420C di atas rata-rata 1961-1990. Suhu di tahun itu merupakan suhu terpanas ke-6 dalam sejarah kehidupan di bumi.


2. British Meteorological Office (BMO) dalam laporannya mencatat bahwa pada Januari 2007 ini terjadi kenaikan suhu sebesar 0,540C dari suhu rata-rata 1961-1990. Kenaikan suhu pada 2007 ini melampaui kenaikan suhu pada 1998 yang hanya berkisar 0,520C. Padahal kenaikan 0,020C saja sudah dapat membunuh beberapa spesies di muka bumi ini.

3. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) 2007. Di tahun ini IPPC mengeluarkan laporan dari tiga kelompok kerja. Laporan tersebut secara tegas menyebutkan "tidak ada keraguan akan masalah perubahan iklim; memastikan bukti-bukti dari perubahan iklim dengan yakin; skala dan percepatan dari dampaknya terhadap kehidupan manusia dan ekosistem akan sangat tinggi; menghindari perubahan iklim ekstrem dapat dilakukan dengan bantuan teknologi dan ekonomi namun waktu untuk bertindak tidak banyak"

Indonesia dan negara-negara dunia ketiga lainnya dipastikan akan menjadi pihak yang sangat rentan terkena dampak dari perubahan iklim itu. Padahal negara-negara dunia ketiga bukanlah negara penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Emisi GRK terbesar justru dihasilkan oleh negara-negara kaya seperti Amerika Serikat (AS). Satu orang AS menghasilkan efek emisi sebanding dengan 17 orang Maladewa, 19 orang India, 30 orang Pakistan, 49 orang Sri Langka, 107 orang Bangladesh, 134 orang Bhutan dan 269 orang Nepal. Lantas, adilkah bila rakyat di negara-negara berkembang nanti harus menjadi korban dari perubahan iklim?

Ketidakdilan itu sebenarnya telah diusahakan untuk dikoreksi oleh Protokol Kyoto dengan mengadopsi prinsip 'common but differentiated responsibilities', yaitu prinsip tanggung jawab bersama namun dengan beban yang berbeda-beda. Konsekuensinya, protokol tersebut mewajibakan negara-negara maju yang tergabung dalam negara Annex-1 untuk untuk mengurangi emisi GRK-nya rata-rata sebesar 5,2% dari tingkat emisi 1990 selama periode tahun 2008 - 2012.

Lho, lantas apa hubungannya dengan Avatar ?
Kebetulan sekali, putra saya sangat menyukai film karton "Avatar, Legend of Aang". Putraku ini keranjingan sekali dan akan marah bukan kepalang apabila chanel televisinya diganti. dalam aksara cina, avatar berarti "Perantara Tuhan Yang Turun ke Dunia Fana"


Kisah Avatar ini adalah bermula pada dunia yang terdiri dari 4 element atau suku bangsa besar :
1. Suku Air terdiri dari (suku air kutub utara dan suku air kutub selatan), menguasai element air dan es
2. Suku Tanah yang menguasai element tanah dan batu-batuan
3. Suku Api, yang menguasai element api dan petir
4. Suku Angin, yang menguasai element angin

Pada setiap musim, selalu ada Sang Avatar yang bisa meredam, mendamaikan dan mempersatukan seluruh element (bangsa di dunia) agar terhindar dari mara bahaya. Karena Sang Avatar menguasai keempat element dari semua unsur yang ada di muka bumi. Dengan kata lain, avatar ini adalah jagoannya / "The One & Only"

Namun kisahnya dimulai pada suatu masa, sebuah element (suku api) ingin menguasai dunia dan mulai melakukan ekspansi penjajahan ke seluruh dunia. Perlawanan demi perlawanan mulai dilakukan hingga titik darah yang penghabisan.

Cerita ini mirip sekali dengan kondisi dunia kita yang sudah labil, tidak menentu akibat adanya pemanasan global yang disebabkan oleh negara-negara maju sebagai "faktor utama" dan negara berkembang sebagai "faktor pendukung".

Suku Api diibaratkan seperti Amerika Serikat yang dengan pongahnya menolak semua opsi yang ada (meskipun akhirnya sedikit melunak......) yang suatu waktu dengan sesadar-sadarnya tanpa ada yang bisa melawan dapat melakukan tindakan-tindakan seperti yang dilakukan oleh suku api di kisah avatar.

Suku Tanah, diibaratkan adalah negara-negara Eropa, karena suku tanah terkenal akan kekuatan dan pertahanannya. Hal ini mirip seperti Eropa yang sangat kuat namun tidak bisa bersatu. Contohnya dalam mata uang euro saja meskipun sudah cukup baik namun masih belum dijadikan compare dengan dolar amerika.

Suku Air & Angin, diibaratkan seperti negara-negara Afrika dan Asia yang pada kenyataannya adalah negara-negara berkembang. Mungkin Indonesia adalah bagian dari suku Angin (versi saya...) yang berharap bisa membawa perubahan di dunia ini untuk menjadi lebih baik lagi.

Melihat dari persamaan-persamaan yang dapat kita ambil dari film karton tersebut kita dapat mengambil hikmahnya bahwa dalam setiap tindakan perusakan-perusakan di muka bumi baik yang disengaja maupun tidak akan mengakibatkan hilangnya keseimbangan dunia. Fatal akibatnya.

Tidaklah salah apabila kita mulai berharap bahwa Indonesia dapat menjadi "Sang Avatar" bagi dunia untuk membawa perubahan-perubahan sehingga kita tidak lagi menjadi takut dan mulai menjalin persahabatan, perdamaian, pelestarian serta menjaga lingkungan hidup.

Mari kita mulai dari sekarang.

Widhi Setyo Kusumo
HR Consultant & Practitioner

Referensi :
1. Satu Bumi Satu masa Depan, Cheryl Simon Silver
2. CSO Forum (http://csoforum.net)
3. Avatar, Legend of Aang

Add comment


Security code
Refresh

Additional information