Preman

Ketika saya akan berangkat menuju kantor, di dalam kompleks perumahan mewah (mepet sawah) yang saya tinggali terdiri dari jalan yang lazimnya diapit oleh perumahan juga. Ketika itu saya melewati sebuah perumahan namun juga sebagai gudang distributor barang2 keperluan rumah tangga. Suasananya ramai dengan orang-orang pembeli sehingga jalanan menjadi menyempit bahkan mobil saya tidak bisa lewat.

Saya langsung mengklakson agar orang-orang itu meminggirkan kendaraannya. namun ternyata setelah beberapa lama belum ada orang bergerak.

Seketika saya panas dalam hati. "Kurang ajar..... ini kan daerah gue....berani-beraninya nggak mau minggir. Ini kan jalan umum."

Spontan pula saya berteriak dengan nada tinggi "Ini mobil & motor punya siapa....? Saya mau lewat. Jangan parkir di jalan umum....... saya tinggal disini...! Ini kan kampung saya....!"

Emosi & merah padam muka bercampur baur sehingga warga di sekitar tersebut langsung tahu bahwa memang saya tinggal di situ dan segera mengusir orang-orang yang parkirnya sembarangan. Setelah saya melewati jalanan kompleks tersebut, ada perasaan puas dalam diri saya bahwa "jangan macam-macam di kampung orang".

Ketika hampir sampai kantor, saya harus melewati sebuah jalan yang mana banyak pemuda penganggur berkumpul disitu (mengatas-namakan organisasi tertentu) dan meminta imbalan atas jasanya "menservice" waktu mobil kita memutar. Kebetulan pada saat itu saya melihat ada pengemudi yang tidak mau memberikan "sedikit imbalan" kepada para pemuda tersebut dan beberapa pemuda itu langsung menendang dan berusaha menggores mobil tersebut.

Mereka mungkin kurang berpendidikan dan tanpa disadarinya merasa bahwa setiap yang lewat di daerahnya harus "setor" kepada mereka. Saya terkejut atas aksi pemuda tersebut. Bukan hanya karena perbuatan mereka, namun karena saya merasa bahwa saya sudah seperti mereka. Berprilaku layaknya seorang "preman" dan dengan jumawa-nya terhadap masyarakat karena saya adalah warga disitu dan berhak untuk berbuat apa saja. Ternyata prilaku saya tidaklah lebih baik dari para pemuda tersebut.

Saya menjadi ngeri apabila ini kita kaitkan dengan otonomi daerah. Karena sebenarnya prilaku kesewenang-wenangan itu sudah menjadi darah daging kita. Kebiasaan-kebiasaan ini sudah masuk ke dalam alam bawah sadar kita ("subconscius mind").

Sudah saatnya kita merubah diri dan berubah.
Salam Indonesia


Jakarta, September 2007

Widhi Setyo Kusumo
HR Consultant & Practitioner

Add comment


Security code
Refresh

Additional information