Komunikasi Intelektual

Hari minggu, biasanya saya melewatkan dengan bercanda & bergurauan dengan putriku tersayang. Kadangkala saya masih menyempatkan diri untuk membaca, menulis goretan-goretan yang masih berupa bahan mentah dan kadangkala tidak berguna (dalam bahasa saya).

Kebetulan di sebuah stasiun swasta sedang ada siaran berita. Pada saat berita kriminal, saya terkejut begitu melihatnya. 2 berita yang menggelitik dan mengingatkan aku pada cerita lalu. Berita itu adalah :

1. Seorang istri polisi dan anaknya yang berumur 3 tahun dibunuh dengan kejam di Bitung, hanya karena dituduh mencuri handphone. Kedua-duanya tewas mengenaskan.
2. Di Semarang, seorang bapak sambil menggendong anaknya yang baru berumur 6-7 bulan dibakar oleh tamunya sendiri. Kejadian ini mengakibatkan sang ayah tewas mengenaskan dan putranya tersebut harus menjalani operasi plastik. Dan akibatnya adalah sang istrinya itu sekarang harus menanggung biaya keseluruh anaknya yang berjumlah 6 orang.dosen.

Pelaku-pelaku tersebut pastilah tidak memiliki hati nurani yang paling dalam ketika melakukan aksi pembunuhan tersebut. Menurut kriminolog Adrianus Meliala, kekerasan ini biasanya berasal dari orang-orang terdekat. Kata beliau lagi, berhati-hatilah dalam berbicara, berpendapat bahkan berkomunikasi terhadap seluruh manusia. Sebuah "Rapport" yang buruk / Komunikasi yang buruk akan mengakibatkan terlukanya salah satu pihak. Dan ini akan merugikan bagi kedua belah fihak. Kisah ini menjadikan aku melakukan flashback dengan 2 buah kejadian yang sangat mirip dengan pemberitaan yang ada di televisi itu, namun tidak berakhir dengan kondisi yang tragis.

Kejadian pertama adalah ketika saya menjalani pendidikan sarjana di sebuah perguruan tinggi di kota Bandung yang katanya pendidikan tinggi teknik nomor satu di Indonesia (mirip seperti iklan kecap nomor satu dan tidak ada kecap nomor dua). Dengan berbekal jaket cap gajah bengkak, pastilah sekota Bandung mengetahui bahwa kita adalah mahasiswa. Namun bukan cerita ini yang hendak saya sampaikan, namun saya teringat pada masa kuliah dulu, dimana gedung dan bangunannya masih arsitektur kuno. Bangunan-bangunan kampus yang sekarang saya lihat sudah banyak berbeda. Penuh dengan gedung-gedung bertingkat yang megah.

Pada waktu itu saya sering mengalami peristiwa demi peristiwa dimana dosen sangat berkuasa dan dominan bahkan sebagian dari mereka melakukan intimidasi psikologis kepada para mahasiswanya termasuk saya sendiri. Kalimat-kalimat yang menyakitkan, ejekan bahkan celaan yang sinis sering diungkapkan kepada para mahasiswa yang indeks prestasinya tergolong NASAKOM atau WIRO SABLENG. Maaf, istilah ini adalah istilah khusus bagi para mahasiswa yang tidak pandai alias bodoh termasuk saya ini. NASAKOM itu adalah Nasib Satu Koma dan WIRO SABLENG adalah Pendekar Kapak Nagageni 212 yang dikaitkan dengan indeks prestasi yang cuma 2,1 atau 2,2 saja.

Ada dosen yang mengintimidasi secara psikologis apabila kita para mahasiswanya tidak mampu dan mengerti kuliah yang diajarkannya. Seringkali kalimat ini yang terucap.

"Kamu tidak bisa mengerti materi ini...? Kucing saya di rumah, begitu saya ajarkan sekali saja sudah langsung mengerti........"
"Kamu pulang lewat mana ? Apakah lewat Simpang Dago...? Kalo lewat, disitu ada Rumah Makan Padang. Kamu jual saja otak kamu kesana. Lebih bermanfaat......"

Bahkan seringkali waktu kita mengajukan proposal untuk topik sebuah penelitian, kita bisa sampai mengajukannya berkali-kali dengan topik yang berbeda-beda karena tidak di-acc alias disetujui. Rekan saya pernah mengajukan proposal hingga 8 topik yang berbeda. Karena saking jengkelnya, rekan saya ini mengajukan topik yang ke-9 itu sama persis seperti topik yang pertama kali diajukan. Mau tau apa komentar dari dosen kita itu....?

Komentarnya adalah : "Nah.....ini yang memang saya tunggu-tunggu.....! Edan tenan khan.....!

Namun kesemuanya itu sebetulnya karena para dosen kampus kami itu ingin agar mahasiswanya bersiap-siap dalam menghadapi dunia kerja. Dunia kerja adalah dunia yang keras sehingga para mahasiswanya perlu digodok dalam "Kawah Candradimuka" laksana kisah pewayangan Sang Ksatria Gatotkaca yang pada waktu masih jadi jabang bayi dicemplungin ke dalam kawah Candradimuka. Namun kita semua para mahasiswa tidak pernah merasa dendam dengan para dosen. Bahkan menjadikannya sebagai kenangan manis.

Kejadian lainnya adalah pada waktu saya sudah lulus kuliah dengan pas-pasan dan bekerja disebuah perusahaan swasta lokal. Sang big bos kami bertemperamen keras dan pemarah. Kami semua di kantor sering berada pada kondisi yang sangat tidak nyaman. Big bos kami memiliki kebiasaan tidak suka apabila ada karyawan yang tidak bekerja. Jadi jika beliau lewat, berpura-puralah bekerja, meskipun pekerjaan kita sudah selesai. Apabila tidak, cacian & makian akan bernyanyi di sekeliling ruangan kantor. Seluruh karyawan akan mengetahui siapa yang sedang dibantai.

Kalimat pembantaian itu seperti ini : "You sedang apa...? Malas-malasan you..... Bikin bangkrut company.......!" You sering tipu company yah.....! You tidur saja dirumah, jangan kerja di sini..!....Makan gaji buta you yah.......!"

Seringkali saya selalu melihat rekan-rekan saya yang dipanggil beliau pastilah berkeringat dingin, gemeteran dan ketakutan. Ini adalah sebuah Management by Fear. Tidak heran dari semua karyawan, terdapat 70% yang pernah mengutarakan dalam kalimat ingin membunuh beliau kalau ada kesempatan. Untuk hal yang ini, alhamdulillah saya tidak pernah berfikiran untuk membunuh beliau. Saya hanya berkeyakinan bahwa bapak ini pasti akan terkena batunya suatu saat atau minimal Tuhan akan membalasnya di dunia ini atau di akhirat sana.

Banyak sekali karyawan yang sakit hati bahkan dendam terhadap beliau hingga setiap karyawan yang resign baik secara baik-baik atau di PHK, kesemuanya ini mengaku membenci dan dendam terhadap beliau.

Ini bisa kita analogikan dengan kita dan sebuah paku. Memang betul sekali kita bisa memukul paku tersebut ke sebuah kayu yang mulus dan mencabut kembali paku tersebut dari kayu itu. namun kita bisa melihat bahwa kayu itu tidak akan kembali ke wujud aslinya karena sudah dilukai oleh kita. Lubang di kayu tersebut akan membuat kayu menjadi semakin rapuh dan tidak kokoh. Hal yang sama berlaku juga dengan manusia.

Kedua pengalaman saya yang berharga ini, ditambah dengan informasi berita dari sebuah stasiun televisi membuat saya berfikir dan merenung bahwa sebagai manusia kita harus bisa melakukan komunikasi. Setiap permasalahan dan persoalan baik yang ringan maupun yang sulit untuk dipecahkan mengharuskan kita untuk melakukan komunikasi dengan baik. Inilah yang disebut dengan "Intelektual".

Seseorang disebut dengan intelektual apabila dia mampu berkomunikasi dengan seluruh lapisan dan golongan masyarakat. Seorang yang memiliki gelar yang panjang dan indeks prestasi yang tinggi belumlah bisa disebut intelektual apabila dia belum bisa berkomunikasi dengan pemulung, anak jalanan, tukang sapu jalanan, karyawan, manager perusahaan, direktur bahkan presiden sekalipun.


Widhi Setyo Kusumo
HR Consultant & Practitioner

Add comment


Security code
Refresh

Additional information